Dr.(HC) Drs. H. Mohammad Hatta (lahir dengan nama
Muhammad Athar, populer sebagai
Bung Hatta; lahir di
Fort de Kock (sekarang
Bukittinggi,
Sumatera Barat),
Hindia Belanda,
12 Agustus 1902 – meninggal di
Jakarta,
14 Maret 1980 pada umur 77 tahun) adalah pejuang, negarawan, ekonom, dan juga
Wakil Presiden Indonesia yang pertama. Ia bersama
Soekarno memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda sekaligus
memproklamirkannya pada 17 Agustus 1945. Ia juga pernah menjabat sebagai
Perdana Menteri dalam
Kabinet Hatta I,
Hatta II, dan
RIS. Ia mundur dari jabatan wakil presiden pada tahun
1956, karena berselisih dengan Presiden
Soekarno. Hatta juga dikenal sebagai Bapak
Koperasi Indonesia.
Bandar udara internasional
Jakarta,
Bandar Udara Soekarno-Hatta, menggunakan namanya sebagai penghormatan terhadap jasa-jasanya. Selain diabadikan di
Indonesia, nama Mohammad Hatta juga diabadikan di
Belanda yaitu sebagai nama jalan di kawasan perumahan Zuiderpolder,
Haarlem dengan nama
Mohammed Hattastraat. Pada tahun 1980, ia meninggal dan dimakamkan di Tanah Kusir,
Jakarta. Bung Hatta ditetapkan sebagai salah satu
Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 23 Oktober 1986 melalui Keppres nomor 081/TK/1986/
[1]
Kehidupan awal
Latar belakang
Mohammad Hatta lahir dari pasangan Muhammad Djamil dan Siti Saleha yang berasal dari
Minangkabau. Ayahnya merupakan seorang keturunan ulama tarekat di
Batuhampar, dekat
Payakumbuh,
Sumatera Barat. Sedangkan ibunya berasal dari keluarga pedagang di
Bukittinggi. Ia lahir dengan nama Muhammad Athar pada tanggal
12 Agustus 1902. Namanya, Athar berasal dari
bahasa Arab, yang berarti "harum".
Ia merupakan anak kedua, setelah Rafiah yang lahir pada tahun 1900.
Sejak kecil, ia telah dididik dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga
yang taat melaksanakan ajaran agama Islam. Kakeknya dari pihak ayah,
Abdurahman Batuhampar dikenal sebagai ulama pendiri Surau Batuhampar,
sedikit dari surau yang bertahan pasca-
Perang Padri. Sementara itu, ibunya berasal dari keturunan pedagang. Beberapa orang mamaknya adalah pengusaha besar di
Jakarta.
Ayahnya meninggal pada saat ia masih berumur tujuh bulan. Setelah kematian ayahnya, ibunya menikah dengan Agus Haji Ning, seorang pedagang dari
Palembang,
Haji Ning sering berhubungan dagang dengan Ilyas Bagindo Marah,
kakeknya dari pihak ibu. Dari perkawinan Siti Saleha dengan Haji Ning,
mereka dikaruniai empat orang anak, yang kesemuanya adalah perempuan.
Pendidikan dan pergaulan
Mohammad Hatta pertama kali mengenyam pendidikan formal di sekolah swasta.
Setelah enam bulan, ia pindah ke sekolah rakyat dan sekelas dengan
Rafiah, kakaknya. Namun, pelajarannya berhenti pada pertengahan semester
kelas tiga. Ia lalu pindah ke
ELS di Padang (kini
SMA Negeri 1 Padang) sampai tahun 1913, kemudian melanjutkan ke
MULO sampai tahun 1917. Selain pengetahuan umum, ia telah ditempa ilmu-ilmu agama sejak kecil. Ia pernah belajar agama kepada
Muhammad Jamil Jambek,
Abdullah Ahmad, dan beberapa ulama lainnya.
Selain keluarga, perdagangan memengaruhi perhatian Hatta terhadap
perekonomian. Di Padang, ia mengenal pedagang-pedagang yang masuk
anggota Serikat Usaha dan juga aktif dalam
Jong Sumatranen Bond sebagai bendahara. Kegiatannya ini tetap dilanjutkannya ketika ia bersekolah di Prins Hendrik School. Mohammad Hatta tetap menjadi bendahara di
Jakarta.
Kakeknya bermaksud akan ke
Mekkah, dan pada kesempatan tersebut, ia dapat membawa Mohammad Hatta melanjutkan pelajaran di bidang
agama, yakni ke
Mesir (Al-Azhar). Ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas
surau
di Batu Hampar yang memang sudah menurun semenjak ditinggalkan Syaikh
Abdurrahman. Tapi, hal ini diprotes dan mengusulkan pamannya, Idris
untuk menggantikannya. Menurut catatan Amrin Imran, Pak Gaeknya kecewa dan Syekh Arsyad pada akhirnya menyerahkan kepada Tuhan.
Keluarga
Pada 18 November 1945, Hatta menikah dengan Rahmi Hatta dan tiga hari
setelah menikah, mereka bertempat tinggal di Yogyakarta. Kemudian,
dikarunai 3 anak perempuan yang bernama
Meutia Farida Hatta, Gemala Rabi’ah Hatta, dan
Halida Nuriah Hatta.
Perjuangan dan pergerakan
1921-1932: Sewaktu di Belanda
Hatta (pertama dari kanan) bersama para pengurus
Perhimpunan Indonesia, pada waktu itu (tahun
1925) Hatta masih berstatus seorang bendahara di situ
Pergerakan
politik ia mulai sewaktu bersekolah di
Belanda dari
1921-
1932. Ia bersekolah di
Handels Hogeschool (kelak sekolah ini disebut
Economische Hogeschool, sekarang menjadi
Universitas Erasmus Rotterdam), selama bersekolah di sana, ia masuk organisasi sosial
Indische Vereniging yang kemudian menjadi organisasi
politik dengan adanya pengaruh
Ki Hadjar Dewantara,
Cipto Mangunkusumo, dan
Douwes Dekker. Pada tahun
1923, Hatta menjadi bendahara dan mengasuh majalah
Hindia Putera yang berganti nama menjadi
Indonesia Merdeka. Pada tahun
1924, organisasi ini berubah nama menjadi
Indische Vereniging (
Perhimpunan Indonesia; PI).
Pada tahun
1926, ia menjadi pimpinan Perhimpunan Indonesia. Sebagai akibatnya, ia terlambat menyelesaikan
studi. Di bawah kepemimpinannya, PI mendapatkan perubahan. Perhimpunan ini lebih banyak memperhatikan perkembangan pergerakan di
Indonesia dengan memberikan banyak komentar, dan banyak ulasan di media massa di
Indonesia. Setahun kemudian, ia seharusnya sudah berhenti dari jabatan ketua, namun ia dipilih kembali hingga tahun 1930. Pada Desember 1926,
Semaun dari
PKI datang kepada Hatta untuk menawarkan pimpinan pergerakan nasional secara umum kepada PI,
selain itu dia dan Semaun membuat suatu perjanjian bernama "Konvensi
Semaun-Hatta". Inilah yang dijadikan alasan Pemerintah Belanda ingin
menangkap Hatta. Waktu itu, Hatta belum meyetujui paham
komunis.
Stalin membatalkan keinginan Semaun, sehingga hubungan Hatta dengan komunisme mulai memburuk. Sikap Hatta ini ditentang oleh anggota PI yang sudah dikuasai komunis.
Pada tahun
1927, ia mengikuti sidang "Liga Menentang Imperialisme, Penindasan Kolonial dan untuk Kemerdekaan Nasional" di
Frankfurt.
[a] Dalam sidang ini, pihak komunis dan utusan dari
Rusia nampak ingin menguasai sidang ini, sehingga Hatta tidak bisa percaya terhadap komunis. Pada waktu itu, majalah PI,
Indonesia Merdeka masuk dengan mudah ke
Indonesia lewat penyelundupan, karena banyak penggeledahan oleh pihak ke
polisian terhadap kaum pergerakan yang dicurigai.
Mohammad Hatta bersama Abdulmadjid Djojohadiningrat, Nazir Datuk Pamuntjak, dan
Ali Sastroamidjojo
Pada 25 September 1927, Hatta bersama
Ali Sastroamidjojo,
Nazir Datuk Pamuntjak, dan
Madjid Djojohadiningrat ditangkap oleh penguasa
Belanda atas tuduhan mengikuti
partai terlarang yang dikait-kaitkan dengan
Semaun, terlibat pemberontakan di
Indonesia yang dilakukan
PKI dari tahun
1926-
1927, dan menghasut (
opruiing) supaya menentang Kerajaan Belanda. Moh. Hatta sendiri dihukum tiga tahun penjara. Mereka semua dipenjara di
Rotterdam. Dia juga dituduh akan melarikan diri, sehingga dia yang sedang memperkenalkan
Indonesia ke kota-kota di
Eropa sengaja pulang lebih cepat begitu berita ini tersebar.
Semua tuduhan tersebut, ia tolak dalam
pidatonya "Indonesia Merdeka" (
Indonesie Vrij) pada sidang kedua tanggal 22 Maret 1928. Pidato ini sampai ke
Indonesia dengan cara penyelundupan. Ia juga dibela 3 orang pengacara Belanda yang salah satunya berasal dari
parlemen. Yang dari parlemen, bernama
J.E.W. Duys.
Tokoh ini memang bersimpati padanya. Setelah ditahan beberapa bulan,
mereka berempat dibebaskan dari tuduhan, karena tuduhan tidak bisa
dibuktikan.
Sampai pada tahun
1931,
Mohammad Hatta mundur dari kedudukannya sebagai ketua karena hendak
mengikuti ujian sarjana, sehingga ia berhenti dari PI; namun demikian ia
akan tetap membantu PI. Akibatnya, PI jatuh ke tangan
komunis, dan mendapat arahan dari partai komunis Belanda dan juga dari
Moskow. Setelah tahun
1931, PI mengecam keras kebijakan Hatta dan mengeluarkannya dari organisasi ini. PI di
Belanda
mengecam sikap Hatta sebab ia bersama Soedjadi mengkritik secara
terbuka terhadap PI. Perhimpunan menahan sikap terhadap kedua orang ini.
Pada Desember 1931, para pengikut Hatta segera membuat gerakan
tandingan yang disebut Gerakan Merdeka yang kemudian bernama Pendidikan
Nasional Indonesia yang kelak disebut PNI Baru. Ini mendorong Hatta dan
Syahrir
yang pada saat itu sedang bersekolah di Belanda untuk mengambil langkah
kongkret untuk mempersiapkan kepemimpinan di sana. Hatta sendiri merasa
perlu untuk menyelesaikan studinya terlebih dahulu. Oleh karenanya,
Syahrir terpaksa pulang dan untuk memimpin PNI. Kalau Hatta kembali pada
1932, diharapkan Syahrir dapat melanjutkan studinya.
1932-1941: Pengasingan
Sekembalinya ia dari
Belanda, ia ditawarkan masuk kalangan Sosialis Merdeka (
Onafhankelijke Socialistische Partij, OSP) untuk menjadi anggota parlemen Belanda, dan menjadi perdebatan hangat di Indonesia pada saat itu. Pihak OSP mengiriminya
telegram pada 6 Desember 1932, yang berisi kesediaannya menerima pencalonan anggota
Parlemen. Ini dikarenakan ia berpendapat bahwa ia tidak setuju orang Indonesia menjadi anggota dalam parlemen Belanda. Sebenarnya dia menolak masuk, dengan alasan ia perlu berada dan berjuang di Indonesia.
[b] Namun, pemberitaan di Indonesia mengatakan bahwa Hatta menerima kedudukan tersebut, sehingga
Soekarno menuduhnya tidak konsisten dalam menjalankan sistem non-
kooperatif.
Setelah Hatta kembali dari Belanda, Syahrir tidak bisa ke Belanda karena keduanya keburu ditangkap Belanda pada
25 Februari 1934 dan dibuang ke
Digul, dan selanjutnya ke
Banda Neira. Baik di
Digul maupun
Banda Neira, ia banyak menulis di
koran-koran Jakarta, dan ada juga untuk
majalah-majalah di
Medan.
Artikelnya tidak terlalu politis, namun bersifat lebih menganalisis dan
mendidik pembaca. Ia juga banyak membahas pertarungan kekuasaan di
Pasifik.
Semasa diasingkan ke
Digul,
ia membawa semua buku-bukunya ke tempat pengasingannya. Di sana, ia
mengatur waktunya sehari-hari. Pada saat hendak membaca, ia tak mau
diganggu. Sehingga, beberapa kawannya menganggap dia sombong. Ia juga merupakan sosok yang peduli terhadap tahanan. Ia menolak bekerja sama dengan penguasa setempat, misalnya memberantas
malaria. Apabila ia mau bekerja sama, ia diberi gaji f 7.50 sebulan. Namun, kalau tidak, ia hanya diberi gaji f 2.50 saja. Gajinya itu tidak ia habiskan sendiri. Ia juga peduli terhadap kawannya yang kekurangan.
Di
Digul, selain bercocok tanam,
ia juga membuat kursus kepada para tahanan. Di antara tahanan tersebut,
ada beberapa orang yang ibadah shalat dan puasanya teratur; baik dari
Minangkabau maupun
Banten. Tapi, mereka ditangkap karena -pada umumnya- terlibat pemberontakan komunis. Pada masa itu, ia menulis surat untuk iparnya untuk dikirimi alat-alat pertukangan seperti
paku
dan gergaji. Selain itu, dia juga menceritakan nasib orang-orang
buangan dalam surat itu. Kemudian, ipar Hatta mengirim surat itu ke
koran
Pemandangan di Jakarta dan segera surat itu dimuat. Surat itu dibaca menteri jajahan pada saat itu, Colijn. Colijn mengecam pemerintah dan segera mengirim
residen Ambon
untuk menemui Hatta di Digul. Maka uang diberikan untuknya, Hatta
menolak dan ia juga meminta supaya kalau mau ditambah, diberikan juga
kepada pemimpin lain yang hidup dalam pembuangan.
Pada 1937, ia menerima
telegram yang mengatakan dia dipindah dari Digul ke
Banda Neira.
[c]
Hatta pindah bersama Syahrir pada bulan Februari pada tahun itu, dan
mereka menyewa sebuah rumah yang cukup besar. Di situ, ada beberapa
kamar dan ruangan yang cukup besar. Adapun ruangan besar itu
digunakannya untuk menyimpan bukunya dan tempat bekerjanya.
Sewaktu di
Banda Neira, ia bercocok tanam dan menulis di
koran "Sin Tit Po" (dipimpin
Lim Koen Hian; bulanan ini berhenti pada 1938) dengan honorarium f 75 dalam
Bahasa Belanda. Kemudian, ia menulis di
Nationale Commantaren (Komentar Nasional; dipimpin
Sam Ratulangi) dan juga, ia menulis di koran
Pemandangan dengan honorarium f 50 sebulan per satu/dua tulisan. Hatta juga pernah menerima tawaran
Kiai Haji Mas Mansur untuk ke
Makassar, dia menolak dengan alasan kalaupun dirinya ke Makassara dia masih berstatus tahanan juga. Waktu itu, sudah ada
Cipto Mangunkusumo dan
Iwa Kusumasumantri. Mereka semua sudah saling mengenal.
Selain itu, di Banda Neira, Hatta juga mengajar kepada beberapa orang pemuda. Anak dr. Cipto belajar tata-buku dan
sejarah. Ada juga anak asli daerah Banda Neira yang belajar kepada Hatta. Ada seorang kenalan Hatta dari
Sumatera Barat yang mengirimkan dua orang kemenakannya untuk belajar
ekonomi dan juga sejarah. Selain itu, dari
Bukittinggi dikirim
Anwar Sutan Saidi sebanyak empat orang pemuda yang belajar kepada Hatta.
Pada tahun 1941, Mohammad Hatta menulis artikel di koran
Pemandangan yang isinya supaya rakyat
Indonesia
jangan memihak kepada baik ke pihak Barat ataupun fasisme Jepang.
Kelak, pada zaman Jepang tulisan Hatta dijadikan bahan oleh penguasa
Jepang untuk tidak percaya Hatta selama
Perang Pasifik. Yang mana, kelak tulisan Hatta dibaca Murase, seorang Wakil Kepala
Kenpeitei (dinas intelijen) dan menyarankan Hatta agar mengikuti
Nippon Sheisin di
Tokyo pada November 1943.
1942-1945: Penjajahan Jepang
Pada tanggal 8 Desember 1941, angkatan perang
Jepang menyerang
Pearl Harbor,
Hawaii. Ini memicu
Perang Pasifik, dan setelah Pearl Harbor, Jepang segera menguasai sejumlah daerah, termasuk
Indonesia. Dalam keadaan genting tersebut, Pemerintah Belanda memerintahkan untuk memindahkan orang-orang buangan dari
Digul ke
Australia, karena khawatir kerjasama dengan Jepang. Hatta dan
Syahrir dipindahkan pada Februari 1942, ke Sukabumi setelah menginap sehari di
Surabaya dan naik
kereta api ke
Jakarta. Bersama kedua orang ini, turut pula 3 orang
anak-anak dari
Banda yang dijadikan anak angkat oleh Syahrir.
Setelah itu, ia dibawa kembali ke
Jakarta. Ia bertemu Mayor Jenderal Harada. Hatta menanyakan keinginan Jepang datang ke
Indonesia.
Harada menawarkan kerjasama dengan Hatta. Kalau mau, ia akan diberi
jabatan penting. Hatta menolak, dan memilih menjadi penasihat.
Ia dijadikan penasihat dan diberi kantor di Pegangsaan Timur dan rumah
di Oranje Boulevard (Jalan Diponegoro). Orang terkenal di masa sebelum
perang, baik orang pergerakan, atau mereka yang bekerjasama dengan
Belanda, diikut sertakan seperti
Abdul Karim Pringgodigdo,
Surachman, Sujitno Mangunkususmo,
Sunarjo Kolopaking,
Supomo, dan
Sumargo Djojohadikusumo. Pada masa ini, ia banyak mendapat tenaga-tenaga baru. Pekerjaan di sini, merupakan tempat saran oleh pihak Jepang.
Jepang mengharapkan agar Hatta memberikan nasehat yang menguntungkan
mereka, malah Hatta memanfaatkan itu untuk membela kepentingan rakyat.
1945: Mempersiapkan kemerdekaan Republik Indonesia
Saat-saat mendekati Proklamasi pada 22 Juni 1945, Badan Penyelidik
Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) membentuk panitia kecil
yang disebut Panitia Sembilan dengan tugas mengolah usul dan konsep para
anggota mengenai dasar negara Indonesia. Panitia kecil itu
beranggotakan 9 orang dan diketuai oleh Ir. Soekarno. Anggota lainnya
Bung Hatta, Mohammad Yamin, Ahmad Soebardjo, A.A. Maramis, Abdulkahar
Muzakir, Wahid Hasyim, H. Agus Salim, dan Abikusno Tjokrosujoso.
Kemudian pada 9 Agustus 1945, Bung Hatta bersama Bung Karno dan Radjiman
Wedyodiningrat diundang ke Dalat (Vietnam) untuk dilantik sebagai Ketua
dan Wakil Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Badan
ini bertugas melanjutkan hasil kerja BPUPKI dan menyiapkan pemindahan
kekuasaan dari pihak Jepang kepada Indonesia. Pelantikan dilakukan
secara langsung oleh Panglima Asia Tenggara Jenderal Terauchi. Puncaknya
pada 16 Agustus 1945, terjadilah Peristiwa Rengasdengklok hari dimana
Bung Karno bersama Bung Hatta diculik ke kota kecil Rengasdengklok
(dekat Karawang, Jawa Barat). Penculikan itu dilakukan oleh kalangan
pemuda, dalam rangka mempercepat tanggal proklamasi kemerdekaan
Indonesia. Malam hari, mereka mengadakan rapat untuk persiapan
proklamasi Kemerdekaan Indonesia di kediaman Laksamana Tadashi Maeda di
Jalan Imam Bonjol 1 Jakarta. Sebelum rapat, mereka menemui somabuco
(kepala pemerintahan umum) Mayjen Nishimura untuk mengetahui sikapnya
mengenai pelaksanaan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Pertemuan
tersebut tidak menghasilkan kesepahaman sehingga tidak adanya
kesepahaman itu meyakinkan mereka berdua untuk melaksanakan proklamasi
kemerdekaan itu tanpa kaitan lagi dengan Jepang.
1945-1956: Menjadi Wakil Presiden pertama di Indonesia
Pada 17 Agustus 1945, hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh
rakyat Indonesia dia bersama Soekarno resmi memproklamasikan kemerdekaan
di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta pk10.00 WIB. Dan keesokan harinya
pada tanggal 18 Agustus 1945, dia resmi dipilih sebagai Wakil Presiden
RI yang pertama mendampingi Presiden Soekarno. Selama menjadi Wakil
Presiden, Bung Hatta amat gigih bahkan dengan nada sangat marah,
menyelamatkan Republik dengan mempertahankan naskah Linggajati di Sidang
Pleno KNIP di Malang yang diselenggarakan pada 25 Februari – 6 Maret
1947 dan hasilnya Persetujuan Linggajati diterima oleh Komite Nasional
Indonesia Pusat (KNIP) sehingga anggota KNIP menjadi agak lunak pada 6
Maret 1947. Dan pada saat terjadinya Agresi Militer Belanda I pada 21
Juli 1947, Hatta dapat meloloskan diri dari kepungan Belanda dan pada
saat itu dia masih berada di Pematang Siantar. Dia dengan selamat
bersama dengan Gubernur Sumatera Mr. T. Hassan tiba di Bukittinggi.
Sebelumnya pada 12 Juli 1947 Bung Hatta mengadakan Kongres Koperasi
pertama di Tasikmalaya. Pada hari itu juga, Hari Koperasi Indonesia
ditetapkan dan Bung Hatta ditetapkan sebagai Bapak Koperasi Indonesia.
Kemudian, Bung Hatta dengan kewibawaannya sebagai Wakil Presiden hendak
menggoalkan persetujuan Renville dengan berakibat jatuhnya Kabinet Amir
dan digantikan oleh Kabinet Hatta. Pada era Kabinet Hatta yang dibentuk
pada 29 Januari 1948, Bung Hatta menjadi Perdana Menteri dan merangkap
jabatan sebagai Menteri Pertahanan. Suasana panas waktu timbul
pemberontakan PKI Madiun dalam bulan September 1948, memuncak pada
penyerbuan tentara Belanda ke Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Bung
Hatta bersama Bung Karno diangkut oleh tentara Belanda pada hari itu
juga. Di tahun yang sama, Bung Hatta bersama Bung Karno diasingkan ke
Menumbing, Bangka. Beberapa waktu setelah pengasingan karena mengalami
adanya sebuah perundingan Komisi Tiga Negara (KTN) di Kaliurang, di mana
Critchley datang mewakili Australia dan Cochran mewakili Amerika. Pada
Juli 1949, terjadi kemenangan Cochran dalam menyelesaikan perundingan
Indonesia. Tahun ini, terjadilah sebuah perundingan penting, Konferensi
Meja Bundar (KMB) yang diadakan di Den Haag sesudah berunding selama 3
bulan, pada 27 Desember 1949 kedaulatan NKRI kita miliki untuk
selamanya. Ratu Juliana memberi tanda pengakuan Belanda atas kedaulatan
negara Indonesia tanpa syarat kecuali Irian Barat yang akan dirundingkan
lagi dalam waktu setahun setelah Pengakuan Kedaulatan kepada Bung Hatta
yang bertindak sebagai Ketua Delegasi Republik Indonesia di Amsterdam
dan di Jakarta. Di Amsterdam dari Ratu Juliana kepada Drs. Mohammad
Hatta dan di Jakarta dari Dr. Lovink yang mewakili Belanda kepada Sri
Sultan Hamengku Buwono IX. Sehingga pada akhirnya negara Indonesia
menjadi negara Republik Indonesia Serikat (RIS), Bung Hatta terpilih
menjadi Perdana Menteri RIS juga merangkap sebagai Menteri Luar Negeri
RIS dan berkedudukan di Jakarta dan Bung Karno menjadi Presiden RIS.
Ternyata RIS tidak berlangsung lama, dan pada 17 Agustus 1950, Indonesia
menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ibu kota
Jakarta dengan Perdana Menteri Moh. Natsir. Bung Hatta menjadi Wakil
Presiden RI lagi dan berdinas kembali ke rumah yang berada di Jalan
Medan Merdeka Selatan 13 Jakarta. Di akhir tahun 1956, Hatta tidak
sejalan lagi dengan Bung Karno karena dia tidak ingin memasukkan unsur
komunis dalam kabinet pada waktu itu. Sebelum ia mundur, dia mendapatkan
gelar doctor honouris causa dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta.
Sebenarnya gelar doctor honouris causa ingin diberikan pada tahun 1951.
Namun, gelar tersebut baru diberikan pada 27 November 1956. Demikian
pula Universitas Indonesia pada tahun 1951 telah menyampaikan keinginan
itu tetapi Bung Hatta belum bersedia menerimanya. Kata dia, “Nanti saja
kalau saya telah berusia 60 tahun.”. Kemudian, pada 1 Desember 1956,
Hatta memutuskan untuk berhenti sebagai Wakil Presiden RI.
1956-1980: Setelah pensiun
Setelah mundur dari jabatannya, dia dan keluarga berpindah rumah dari
Jalan Medan Merdeka Selatan 13 ke Jalan Diponegoro 57. Bung Hatta tak
pernah menyesal atas keputusan yang telah ia buat. Kegiatan sehari-hari
Bung Hatta setelah pensiun adalah menambah dari penghasilan menulis buku
dan mengajar. Meskipun sudah tak menjabat lagi sebagai Wakil Presiden,
pada tahun 1957 dia berangkat ke Cina karena mendapat undangan dari
Pemerintah RRC. Rakyat sana masih menganggap dia sebagai “a great son of
his country”, terbukti dari penyambutan yang seharusnya diberikan
kepada seorang kepala negara di mana PM
Zhou Enlai
sendiri menyambut dia yang bukan lagi sebagai wakil presiden. Ketika
Presiden Soekarno berada di puncak kekuasaannya pada tahun 1963, Bung
Hatta pertama kali jatuh sakit dan perlu perawatan di
Swedia
karena perlengkapan medis di sana lebih lengkap. Sekitar tahun 1965,
Bung Hatta sering jadi bulan-bulanan serangan politik PKI. Pada 31
Januari 1970, melalui Keppres No. 12/1970 telah dibentuk Komisi Empat
yang bertugas mengusut masalah korupsi. Untuk keperluan itu Dr. Moh.
Hatta (mantan Wakil Presiden RI) telah diangkat menjadi Penasehat
Presiden dalam masalah pemberantasan Korupsi. Komisi Empat ini diketuai
oleh Wilopo, SH, dengan anggota-anggota: IJ Kasimo, Prof. Dr. Yohanes,
H. Anwar Tjokroaminoto, dengan sekretaris Kepala Bakin/Sekretaris
Kopkamtib, Mayjen. Sutopo Juwono. Dr. Moh. Hatta juga ditunjuk sebagai
Penasehat Komisi Empat tersebut. Bung Hatta dipercaya oleh Presiden
Soeharto untuk menjadi Anggota Dewan Penasehat Presiden. Pada 15 Agustus
1972, Bung Hatta mendapat anugerah Bintang Republik Indonesia Kelas I
dari Pemerintah Republik Indonesia. Kemudian, di tahun yang sama
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengangkat dia sebagai warga utama
Ibukota Jakarta dengan segala fasilitasnya, seperti perbaikan besarnya
pensiun dan penetapan rumah dia menjadi salah satu gedung yang
bersejarah di Jakarta. Kemudian, pada tahun 1975, Bung Hatta menjadi
anggota Panitia Lima bersama Prof Mr. Soebardjo, Prof Mr. Sunario, A.A.
Maramis, dan Prof Mr. Pringgodigdo untuk memberi pengertian mengenai
Pancasila sesuai dengan alam pikiran dan semangat lahir dan batin para
penyusun UUD 1945 dengan Pancasilanya. Ternyata, Bung Hatta resmi
menjadi Ketua Panitia Lima. Tak hanya itu, Bung Hatta kembali
mendapatkan gelar doctor honouris causa sebagai tokoh proklamator dari
Universitas Indonesia yang seharusnya diberikan pada tahun 1951.
Pemberian gelar tersebut dilakukan di Jakarta pada 30 Juli 1975 dan
diberikan secara langsung oleh Rektor Mahar Mardjono. Dan pada tahun
1979, dimana tahun tersebut merupakan tahun ke-5 Bung Hatta masuk ke
rumah sakit. Kesehatan Bung Hatta semakin menurun. Walaupun begitu,
semangatnya tetap saja tinggi. Ia masih mengikuti perkembangan politik
dunia.
Wafat
Hatta wafat pada tanggal 14 Maret 1980 di
Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo
Jakarta setelah sebelas hari ia dirawat di sana. Selama hidupnya, Bung
Hatta telah dirawat di rumah sakit sebanyak 6 kali pada tahun 1963,
1967, 1971, 1976, 1979, dan terakhir pada 3 Maret 1980. Keesokan
harinya, dia disemayamkan di kediamannya Jalan Diponegoro 57, Jakarta
dan dikebumikan di TPU Tanah Kusir, Jakarta disambut dengan upacara
kenegaraan yang dipimpin secara langsung oleh Wakil Presiden pada saat
itu,
Adam Malik. Ia ditetapkan sebagai pahlawan proklamator pada tahun 1986 oleh pemerintahan Soeharto.
Mendapat gelar pahlawan
Setelah wafat, Pemerintah memberikan gelar Pahlawan Proklamator kepada Bung Hatta pada
23 Oktober 1986 bersama dengan mendiang Bung Karno. Pada
7 November 2012, Bung Hatta secara resmi bersama dengan Bung Karno ditetapkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai
Pahlawan Nasional.